Profile of sexual violence cases at H. Abdul Manan Simatupang General Hospital Kisaran in 2024–2025

Authors

  • Ricky Christian Siregar Departemen Kedokteran Forensik dan Studi Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
  • Agustinus Sitepu Universitas Sumatera Utara
  • Adriansyah Lubis Universitas Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.35451/jkg.v9i1.3780

Keywords:

sexual violence, case profile, visum et repertum, sexual abuse

Abstract

Background: Sexual violence is a serious human rights violation. Objective: This study aimed to describe sexual violence cases at H. Abdul Manan Simatupang Regional General Hospital, Kisaran, in 2024–2025 by age, sex, occupation, marital status, victim–perpetrator relationship, and type of sexual violence. Methods: This descriptive cross-sectional study used secondary data from Visum et Repertum records of sexual violence cases examined at the hospital’s Department of Forensic and Legal Medicine from January 2024 to December 2025. All eligible records were included through total sampling. Results: Among 77 cases, 76 victims (98.7%) are female, 63 (81.8%) are adolescents aged 10–18 years, 65 (84.4%) are students, and all 77 (100%) are unmarried. The perpetrator is known to the victim in 63 cases (81.8%). All cases are classified as sexual abuse/molestation (100%). Conclusion: The victims are predominantly unmarried female adolescents who are students, and most perpetrators are known to them. These findings support the need for reproductive health education, parental supervision, and improved legal protection for victims.

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] Sasmitha Adnyana IGN, Suardita IK. Perlindungan hukum Indonesia untuk korban tindak pidana kasus kekerasan seksual terhadap anak. 2024.

[2] Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kekerasan meningkat: Kebijakan penghapusan kekerasan seksual untuk membangun ruang aman bagi perempuan dan anak perempuan. Jakarta: Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan; 2022.

[3] Pibra A. Relationship of the risk factors of sexual violence with the event of sexual harassment in RSUD Dr. Pirngadi Medan year 2019. Jurnal Kedokteran STM. 2019;4.

[4] Iskandar A, Zubi. Karakteristik kasus kekerasan seksual pada perempuan di BLUD Rumah Sakit Cut Meutia berdasarkan Visum et Repertum periode tahun 2018. Jurnal Averrous. 2020;6(1):66–77.

[5] Sheehy EA. Legal Scholar, Sexual Violence Law. 2020–2023.

[6] Dahlan S. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Semarang: Universitas Diponegoro; 2020. p.126–133.

[7] Universitas Muhammadiyah Palembang. Judul dokumen/bab [Internet]. Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang; [cited 2026 Jun 26]. Available from: http://repository.umpalembang.ac.id/id/eprint/4130/2/502015049_BAB%20II_SAMPAI_BAB%20TERAKHIR.pdf

[8] Wahid A. Perlindungan terhadap korban kekerasan seksual (advokasi atas hak asasi perempuan). Bandung: Refika Aditama; 2001.

[9] Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Pasal 4 Ayat (1). Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia; 2022.

[10] Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia; 2023.

[11] Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia; 2004.

[12] Abdussalam, Desasfuryanto A. Buku pintar forensik (pembuktian ilmiah). Jakarta: PTIK Press; 2014.

[13] Atmadja DS. Aspek medikolegal pemeriksaan korban perlukaan dan keracunan di rumah sakit. Dalam: Prosiding Simposium Tata Laksana Visum et Repertum Korban Hidup pada Kasus Perlukaan dan Keracunan di Rumah Sakit; 2004 Jun 23; Jakarta. Jakarta; 2004. p.1–5.

[14] Budijanto A, Sudiono S, Purwadianto A. Kejahatan seks dan aspek medikolegal gangguan psikoseksual. Jakarta: Kalman Media Pusaka; 1982. p.5–34.

[15] Ritchie, Doherty. Medico-legal evidence: survivor relation autonomy and informed consent in sexual assault examinations. 2025.

[16] Padang JT. Persepsi kaum homoseksual terhadap aktivitas seksual yang berisiko terjadi HIV-AIDS [Tesis]. Depok: Universitas Indonesia; 2012.

[17] RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran. Profil RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran. Kisaran: RSUD H. Abdul Manan Simatupang.

[18] UNICEF. Laporan kasus kekerasan seksual. UNICEF.

[19] Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA). Jakarta: KemenPPPA.

[20] Manafe RP, Benu JMY. Forms and impacts of revictimization on adolescents sexual violence victims. INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental. 2024;9(2):157–174. doi:10.20473/jpkm.v9i22024.157-174.

[21] Adnan ML, Mahila NAD, Triyuwanto ST. The role of Visum et Repertum and clinical examination in sexual violence cases: A literature review. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. 2024;14(1):61–72. doi:10.24843/IJLFS.2024.v14.i01.p06.

[22] Rubini E, Valente M, Sguazzi G, Trentin M, Ragazzoni L, Gino S. Forensic medical examination after conflict-related sexual violence: A scoping review of the literature. Journal of Forensic and Legal Medicine. 2024;106:102736. doi:10.1016/j.jflm.2024.102736.

Downloads

Published

2026-10-30

How to Cite

Profile of sexual violence cases at H. Abdul Manan Simatupang General Hospital Kisaran in 2024–2025. (2026). JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG), 9(1), 73-79. https://doi.org/10.35451/jkg.v9i1.3780